Kompetensi Keahlian Seni Pertunjukan Program Keahlian Seni Tari dan Seni Karawitan Terakreditasi "B" BAN SM Provinsi Jawa Barat 2015 Alamat : Jl. Brigjen Dharsono (By Pass) Sunyaragi - Kesambi - Kota Cirebon
Sabtu, 24 Februari 2018
Rabu, 21 Februari 2018
SOSIALISASI DAN PUBLIKASI PAGELARAN SENDRATARI UJI KOMPETENSI SMK PAKUNGWATI KE SMP/MTS SE KOTA DAN KABUPATEN CIREBON
Publikasi dan Sosialisasi acara pagelaran sendratari dalam rangka uji kompetensi perlu dilakukan agar masayarakat cirebon khususnya pelajar tahu dan tertarik untuk datang.
Hari ini Team Publikasi dan Dokumentasi yang dipimpin oleh Bu Titin Guru SMK Pakungwati, melakukan sosialisasi ke SMP/MTs se Kota dan Kabupaten Cirebon yang tentunya juga didukung langsung oleh Bapak Kabid Disdik Kabupaten dan Kota juga seluruh Guru Seni Budaya.
Semangat!!!Jangan lupa dateng yah!!!
Senin, 19 Februari 2018
LATIHAN PERSIAPAN UJI KOMPETENSI 2018
Menghadapi Uji Kompetensi bagi kelas XII merupakan tugas akhir sekolah yang tidaklah mudah, dimana hasildari Uji Kompetensi merupakan pnilaian akhir yang sangat dipertimbangkan untuk kelulusan. selain Ujian Nasional tertulis yang sekarang menjadi UNBK, Uji Kompetensi atau UK juga menjadi penilaian yang paling mendasar terutama bagi siswa SMK. Ini merupakan Ujian tentang bagaimana keahlian siswa SMK sesuai bidang keahliannya. karena kami adalah siswa-siswi Seni Tari, kompetensi Tari lah yang diujikan.
Tema yang kita usung dalam UK kali ini adalah Sendratari, dimana yang dipertunjukan tidak semua tentang tari, tapi seni pertunjukan yang mempertontokan tarian dan seni dalam berakting atau drama.
Lintang Kerti Dederetan adalah judul yang kita usung.
bagaimana sih cerita dan pertunjukannya???
Jangan lupa datang ke GK. Rarasantang yah tanggal 3 Maret 2018.
KESENIAN SINTREN CIREBON
Ada yang tahu kesenian Sintren??? pasti tahu semua dong?!!
Salah satu tradisi lama rakyat pesisiran Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat, tepatnya di Cirebon, adalah Sintren. Kesenian ini kini menjadi sebuah pertunjukan langka bahkan di daerah kelahiran Sintren sendiri. Sintren dalam perkembangannya kini, paling-paling hanya dapat dinikmati setiap tahun sekali pada upacara-upacara kelautan selain nadran, atau pada hajatan-hajatan orang gedean.
Berdasarkan keterangan dari berbagai sumber kalangan seniman tradisi cirebon, Sintren mulai dikenal pada awal tahun 1940-an, nama sintren sendiri tidak jelas berasal dari mana, namun katanya sintren adalah nama penari yang masih gadis yang menjadi staring dalam pertunjukan ini.
Sintren adalah kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di
Cirebon. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, antara lain di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Banyumas, dan Pekalongan. Kesenian Sintren dikenal juga dengan nama lais. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.
Sejarah tari sintren
Kesenian Sintren berasal dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.
Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan). sintren jg mempunyai keunikan trsendiri yaitu trlihat dri panggung alat-alat musiknya yg trbuat dri tembikar atau gembyung dan kipas dri bambu yg ketika ditabuh dgn cara trtentu menimbulkan suara yg khas.
Bentuk pertunjukan
Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang. Dalam perkembangannya tari sintren sebagai hiburan budaya, kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan bodor (lawak).
Dalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan Sintren, si pawang (dalang) sering mengundang Roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan Sintren. Bila, roh Dewi Lanjar berhasil diundang, maka penari Sintren akan terlihat lebih cantik dan membawakan tarian lebih lincah dan mempesona.
Kesenian Sintren terdiri dari para juru kawih/sinden yang diiringi dengan beberapa gamelan seperti buyung,sebuah alat musik pukul yang menyerupai gentong terbuat dari tanah liat, rebana, dan waditra lainya seperti , kendang, gong, dan kecrek. Sebelum dimulai, para juru kawih memulai dengan lagu-lagu yang dimaksudkan untuk mengundang penonton. Syairnya begini:
"Tambak tambak pawon
Isie dandang kukusan
Ari kebul-kebul wong nontone pada kumpul".
Syair tersebut dilantunkan secara berulang-ulang sampai penonton benar-benar berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan Sintren. Begitu penonton sudah banyak, juru kawih mulai melantunkan syair berikutnya,
"Kembang trate
Dituku disebrang kana
Kartini dirante
Kang rante aran mang rana"
Di tengah-tengah kawih diatas, muncullah Sintren yang masih muda belia. Konon menurut Ny. Juju. Seorang sintren haruslah seorang gadis, kalau Sintren dimainkan oleh wanita yang sudah bersuami, maka pertunjukan dianggap kurang pas, dalam hal ini Ny. Juju enggan lebih jauh menjelaskan kurang pas yang dimaksud semacam apa. ”Pokoknya harus yang masih perawan,” katanya menegaskan.
Kemudian sintren diikat dengan tali tambang mulai leher hingga kaki, sehingga secara syariat, tidak mungkin Sintren dapat melepaskan ikatan tersebut dalam waktu cepat. Lalu Sintren dimasukan ke dalam sebuah carangan (kurungan) yang ditutup kain, setelah sebelumnya diberi bekal pakaian pengganti. Gamelan terus menggema, dua orang yang disebut sebagai pawang tak henti-hentinya membaca mantra dengan asap kemenyan mengepul. Juru kawih terus berulang-ulang nembang :
"Gulung gulung kasa
Ana sintren masih turu
Wong nontone buru-buru
Ana sintren masih baru"
Yang artinya menggambarkan kondisi sintren dalam kurungan yang masih dalam keadaan tidur. Namun begitu kurungan dibuka, sang Sintren sudah berganti dengan pakaian yang serba bagus layaknya pakaian yang biasa digunakan untuk menari topeng, ditambah lagi sang Sintren memakai kaca mata hitam. Sintren kemudian menari secara monoton, para penonton yang berdesak-desakan mulai melempari Sintren dengan uang logam, dan begitu uang logam mengenai tubuhnya, maka Sintren akan jatuh pingsan. Sintren akan sadar kenbali dan menari setelah diberi jampi-jampi oleh pawang. Secara monoton sintren terus menari dan penonton pun beruhasa melempar dengan uang logam dengan harapan Sintren akan pingsan. Disinilah letak inti dari seni sintren, tidak tahu apakah itu hanya adegan semata atau memang benar-benar mengandung unsur magis.
Kesenian Sintren merupakan warisan tradisi rakyat pesisiran yang harus dipelihara, mengingat nilai-nilai budaya yang kuat di dalamnya, terlepas dari apakah pengaruh majis ada di dalamnya atau tidak. Sintren menambah daftar panjang kekayaan khasanah budaya sebagai warisan tradisi nenek moyang kita.
pengetahuan memberikan kekuatan.
source:id.wikipedia.org,pikiran-rakyat.com
Salah satu tradisi lama rakyat pesisiran Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat, tepatnya di Cirebon, adalah Sintren. Kesenian ini kini menjadi sebuah pertunjukan langka bahkan di daerah kelahiran Sintren sendiri. Sintren dalam perkembangannya kini, paling-paling hanya dapat dinikmati setiap tahun sekali pada upacara-upacara kelautan selain nadran, atau pada hajatan-hajatan orang gedean.
Berdasarkan keterangan dari berbagai sumber kalangan seniman tradisi cirebon, Sintren mulai dikenal pada awal tahun 1940-an, nama sintren sendiri tidak jelas berasal dari mana, namun katanya sintren adalah nama penari yang masih gadis yang menjadi staring dalam pertunjukan ini.
Sintren adalah kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di
Cirebon. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, antara lain di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Banyumas, dan Pekalongan. Kesenian Sintren dikenal juga dengan nama lais. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.
Sejarah tari sintren
Kesenian Sintren berasal dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.
Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan). sintren jg mempunyai keunikan trsendiri yaitu trlihat dri panggung alat-alat musiknya yg trbuat dri tembikar atau gembyung dan kipas dri bambu yg ketika ditabuh dgn cara trtentu menimbulkan suara yg khas.
Bentuk pertunjukan
Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang. Dalam perkembangannya tari sintren sebagai hiburan budaya, kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan bodor (lawak).
Dalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan Sintren, si pawang (dalang) sering mengundang Roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan Sintren. Bila, roh Dewi Lanjar berhasil diundang, maka penari Sintren akan terlihat lebih cantik dan membawakan tarian lebih lincah dan mempesona.
Kesenian Sintren terdiri dari para juru kawih/sinden yang diiringi dengan beberapa gamelan seperti buyung,sebuah alat musik pukul yang menyerupai gentong terbuat dari tanah liat, rebana, dan waditra lainya seperti , kendang, gong, dan kecrek. Sebelum dimulai, para juru kawih memulai dengan lagu-lagu yang dimaksudkan untuk mengundang penonton. Syairnya begini:
"Tambak tambak pawon
Isie dandang kukusan
Ari kebul-kebul wong nontone pada kumpul".
Syair tersebut dilantunkan secara berulang-ulang sampai penonton benar-benar berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan Sintren. Begitu penonton sudah banyak, juru kawih mulai melantunkan syair berikutnya,
"Kembang trate
Dituku disebrang kana
Kartini dirante
Kang rante aran mang rana"
Di tengah-tengah kawih diatas, muncullah Sintren yang masih muda belia. Konon menurut Ny. Juju. Seorang sintren haruslah seorang gadis, kalau Sintren dimainkan oleh wanita yang sudah bersuami, maka pertunjukan dianggap kurang pas, dalam hal ini Ny. Juju enggan lebih jauh menjelaskan kurang pas yang dimaksud semacam apa. ”Pokoknya harus yang masih perawan,” katanya menegaskan.
Kemudian sintren diikat dengan tali tambang mulai leher hingga kaki, sehingga secara syariat, tidak mungkin Sintren dapat melepaskan ikatan tersebut dalam waktu cepat. Lalu Sintren dimasukan ke dalam sebuah carangan (kurungan) yang ditutup kain, setelah sebelumnya diberi bekal pakaian pengganti. Gamelan terus menggema, dua orang yang disebut sebagai pawang tak henti-hentinya membaca mantra dengan asap kemenyan mengepul. Juru kawih terus berulang-ulang nembang :
"Gulung gulung kasa
Ana sintren masih turu
Wong nontone buru-buru
Ana sintren masih baru"
Yang artinya menggambarkan kondisi sintren dalam kurungan yang masih dalam keadaan tidur. Namun begitu kurungan dibuka, sang Sintren sudah berganti dengan pakaian yang serba bagus layaknya pakaian yang biasa digunakan untuk menari topeng, ditambah lagi sang Sintren memakai kaca mata hitam. Sintren kemudian menari secara monoton, para penonton yang berdesak-desakan mulai melempari Sintren dengan uang logam, dan begitu uang logam mengenai tubuhnya, maka Sintren akan jatuh pingsan. Sintren akan sadar kenbali dan menari setelah diberi jampi-jampi oleh pawang. Secara monoton sintren terus menari dan penonton pun beruhasa melempar dengan uang logam dengan harapan Sintren akan pingsan. Disinilah letak inti dari seni sintren, tidak tahu apakah itu hanya adegan semata atau memang benar-benar mengandung unsur magis.
Kesenian Sintren merupakan warisan tradisi rakyat pesisiran yang harus dipelihara, mengingat nilai-nilai budaya yang kuat di dalamnya, terlepas dari apakah pengaruh majis ada di dalamnya atau tidak. Sintren menambah daftar panjang kekayaan khasanah budaya sebagai warisan tradisi nenek moyang kita.
pengetahuan memberikan kekuatan.
source:id.wikipedia.org,pikiran-rakyat.com
Kamis, 15 Februari 2018
PRESTASI ALUMNI DI PASANGGIRI NOK KACUNG KABUPATEN CIREBON
Dengan bakat seni yang dimiliki, membuat Kang Andri salah satu alumni SMK Pakungwati dengan mudah melewati kompetisi Pasanggiri Nok Kacung Kabupaten Cirebon.
Ia terpilih sebagai Nok Kacung wakil II Kabupaten Cirebon tahun 2015.
Sukses terus yah!!!
Ini membuktikan bahwa kita masih bisa terus berprestasi di luar dan ilmu yang kalian dapat, akan membawa kalian untuk terus berprestasi di bidang apapun yang kalian tekuni.
TARI BLANTEK
Tari Ronggeng Blantek
Kata blantek ini diambil dari suara musik pengiring yang berbunyi "blang blang tek tek" khas rebana biang dan rebana kotek. Musik ini dimainkan untuk pertunjukan Topeng Blantek. Sedangkan pada tarian, alat musik trompet, trombon, tanji, gendang, gong, dan simbal yang mengiringi. Dahulu, tari kreasi ini memang menjadi pembuka pertunjukan Topeng Blantek , yang biasa dipentaskan sebagai hiburan para tuan tanah kala itu. Seni teater rakyat ini menceritakan kehidupan masyarakat Betawi, yang dikemas dengan humor. Sekitar 4-6 orang perempuan menarikan ronggeng Betawi ini. Mereka mengenakan kostum serba cerah, dihiasi payet dan manik-manik, lengkap dengan selendang. Warna-warna terang seperti kuning, hijau, merah, dan biru ini merupakan pengaruh dari kebudayaan Tionghoa. Pengaruh Tionghoa juga terlihat dari hiasan kepala para penari ronggeng, yang berbentuk seperti topi dengan buntut dan rumbai. Para penari melakukan gerakan tarian dengan luwes dan cepat. Gerakan yang mereka lakukan memiliki nama tersendiri. Ada gerakan rapat tindak, selancar tindak, puter goyang, geol, kewer
Dokumentasi : Anis Agustin, Febi Andriyani, Zahrotul hayat, Tinta Kristiana, Sri Dwi Jayanti, Melika Rahmawati dalam Uji Kelayakan Kompetensi di PGC Cirebon
TARI JAIPONG MAKALANGAN
Semua orang pasti tahu tari jaipong. Tarian energic yang berasal dari tatar sunda ini sangat populer. siapapun yang melihatnya pasti akan tertarikuntuk ikut bergoyang mengikuti ritme.
Sedikit cerita tentang tari jaipong. Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.
Dokumentasi: Melika Rahmawati, Rizki Dwi Anggraeni dan Zahrotul Hayat.
TARI ADIPATI KARNA
Tari Adipati Karna termasuk kedalam kategori Tari wayang. Berdasarkan Gerakan Dasar tarinya, Tarian ini juga termasuk kedalam Tari Putra Halus.
Seperti yang kita ketahui dalam cerita pewayangan, Adipati Karna adalah putra dari Dewi Kunti, yaitu putri Prabu Kuntiboja di Madura. Waktu muda ia bernama Suryaputra. Waktu Dewi Kunti belum bersuami ia telah hamil karena mempunyai ilmu dari Begawan Druwasa, dan ilmu itu tidak boleh diucapkan dalam sinar matahari (siang hari). Jika diucapkan dalam sinar matahari ia akan jadi. hamil. Tetapi Dewi. Kunti lupa akan larangan itu, maka hamillah ia. Oleh pertolongan Begawan Druwasa, kandungan itu dapat dilahirkan keluar dari lubang kuping, maka diberi anak itu diberi nama Karna (karna berarti kuping).Karna diaku anak angkat oleh Hyang Surya. Waktu Karna dilahirkan lalu dibuang ia ditemukan oleh Prabu Radea, raja di Petapralaya, terus diaku anak dan diberi nama Radeaputra.
Setelah dewasa, ia berkenalan dengan seorang puteri di Mandraka bernama Dewi Surtikanti. Perkenalan itu diketahui oleh Raden Pamade, hingga terjadi perang tanding. Karna mendapat luka di pelipis dan akan dibunuh oleh Pamade. Tetapi Hyang Narada, turun dari Kahyangan untuk mencegah kehendak Pamade itu dan Narada menerangkan, bahwa Kama itu saudara Pamade (Pandawa) yang tertua, malah seharusnya Pamade membantu perkawinan Karna dengan Surtikanti. Dan seketika itu juga Hyang Narada menghadiahkan mahkota. pada Karna untuk menutup luka di pelipisnya.
Pamade dan Karna pergi ke Awangga dan membunuh raja raksasa di Awangga bernama Prabu Kalakarna, yang, mencuri Dewi Surtikanti. Kemudian Surtikanti dihadiahkan kepada Karna untuk jadi isterinya dan Karna bertahta sebagai raja di Awangga berpangkat Adipati, suatu pangkat yang hampir setara raja, dan bergelar Adipati Awangga.
Karna kesatria sakti dan mempunyai senjata bernama Kunta Wijayadanu.
Dalam perang Baratayudha, Karna berperang dengan Arjuna, saudara sendiri, hingga Karna mati dalam perang sebagai kesatria. Tewasnya Adipati Karna dalam perang Baratayuda dianggap utama karena ia mati dalam perang untuk membela negeri Hastinapura, setia hingga mati, tak memandang bermusuhan dengan saudara sendiri.
Teladan keutamaan Adipati Kama ini dikarang oleh KGPAA Mangkunegara IV untuk pengajaran pada kerabat dan tentara Mangkunegaran, tetapi umumnya juga diikuti oleh khalayak. Buku tersebut berjudul Tripama. (sumber: wayangku.wordpress.com)
Model : Akhmad Rifa'i (Siswa SMK Pakungwati Angkatan 2014/2015)
Rabu, 14 Februari 2018
TARI GAWIL SATRIA
Tari Gawil adalah Tari yang berasal dari Kabupaten Sumedang.
Tari Gawil ini termasuk kedalam kategori Tari Putra Halus. Tarian ini juga merupakan tarian ladak/lincah menggambarkan karakter manusia yang lincah pertentang sehingga dalam pewayangan biasa ditarikan oleh satria ladak seperti tari Adipatikarna, Arayana dan Ekalaya.
Tari Gawil diciptakan pada tahun 1930 oleh Rd. Ono Lesmana Kartadikusumah ( alm ) tari ini mapag perang waktu amarta kehilangan jimat Layang Kalimusada, yang diambil oleh Mustaka Weni dari negara Manik Mantaka.
Tarian ini diajarakan di semester III, diakhir semester setiap siswa akan diuji ketangkasannya dalam membawakan setiap Tarian termasuk salah satunya Tari Gawil ini.
Dokumentasi: Intan Nurhaeni, Riana Purtika Dewi, Mega Ayu Purnama dan Linda (Siswa-Siswi SMK Pakungwati angkatan 2014/2015)
Selasa, 13 Februari 2018
Langganan:
Komentar (Atom)

















































